Siapakah Abdullah bin Saba? Adakah realitas dan ekstensi orang ini? lantas apa hubungannya dengan Syi’ah.? Benar, meneliti lebih jauh Abdullah bin Saba adalah sesuatu yang urgen untuk dapat lebih jernih melihat Syi’ah. Tidak cukup adil kelihatannya bila hanya merujuk kepada buku-buku yang menjadikan tokoh kita ini sebagai senjata menyerang Syi’ah, sementara kita tidak membuka buku-buku pembelaan ulama muktabar Syi’ah.
Berikut ini, kami mengajak Anda melihat realitas, kemudian kepada hati, kita tanyakan, apakah kita berani mengambil argumentasi yang benar, atau kita, adalah orang-orang yang menutup diri dari kebenaran!
Mata Rantai Sejarah Ibn Saba
Para sejarawan dan penulis mengukir nama Abdullah bin Saba berusia lebih dari dua belas abad lamanya dalam lembaran-lembaran karya agung mereka. At-Thabari dari Saif bin Umar, adalah orang pertama yang memasukan nama Abdullah bin Saba kedalam buku sejarahnya. Dari at-Thabari sejumlah penulis setelahnya, seperti Ahmad Amin, Farij wajdi, Said Afghani, Ibn Asakir, Ibn Khaldun, Ibn Atsir, Ibn Katsir, Abu Fida, dan kaum orientalis di antaranya, Nocholson, Van Floton, dan Wellhauzen, yang membuat tokoh Abdullah bin Saba menjadi naik daun. Para sejarawan atau penulis sebelum at-Thabari tidak satupun dan sekalipun menulis nama Abdullah bin Saba di dalam karya-karya mereka. Saif bin Umar kemudian menukil nama Abdullah bin Saba kepada at-Thabari, kemudian para penulis saling nukil menukil dari sumber at-Thabari.
Beberapa Khurafat Abdullah Bin Saba
Sebagaimana yang disampaikan oleh at-Thabari, pada masa Utsman, seorang Yahudi dari Shan’a bernama Abdullah bin Saba, memeluk agama Islam. Pemikiran-pemikirannya ia sebarkan ke wilayah-wilayah Islam yang ia kunjungi seperti Kufah, Basrah, Syam dan Mesir. Ia berkeyakinan kembalinya Rasulullah saw -setelah wafat- ke dunia ini sebagaimana Nabi Isa as akan diturunkan. Usman adalah perampas hak Imam Ali as atas kekhilafahan.
Dalam polemik khilafah ini, sahabat-sahabat besar seperti Abu Dzar, Migdad, Salman al-Farisi, Ammar bin Yasir, Malik Asytar dan lainnya, telah terperdaya oleh tipu daya Abdullah bin Saba. Pada akhirnya, segolongan besar umat Islam telah tergerakkan ke dalam fitnah. Konon, perang Jamal dan Shiffin, tidak terlepas dari muslihat Abdullah bin Saba.[1]
Beberapa Tuduhan
Sebagaimana kita ketahui, tuduhan terhadap Syi’ah adalah bahwa Abdullah bin Saba adalah Founding Father bagi mazhab yang paling terzalimi di dunia Islam ini. Kami akan membawakan beberapa pendapat tersebut:
1. Dr. Ali Sami menulis; Seorang Yahudi (Abdullah bin Saba) adalah orang yang menciptakan mazhab Syi’ah Ghulat.[2]
2. Muhammad Abu Zuhrah mengatakan; si Thagut Besar (Abdullah bin Saba) adalah orang yang mengajak masyarakat Islam kepada kepemimpinan Imam Ali as, berkeyakinan bahwa Rasulullah Saw akan dibangkitkan kembali sebagaimana Nabi Isa as, dan yang paling terpenting dari semua bencana ini adalah menciptakan mazhab Syi’ah.[3]
3. Ihsan Ilahi Zhahir berpendapat, agama Syi’ah Imamiyah dan Dua Belas Imam, dibangun atas pemikiran seorang Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba.[4]
Ibn Saba Yang Diliputi Misteri
Beberapa sejarawan lain meragukan keberadaan Ibn Saba. Kelompok lainnya memperkenalkan ia dengan wajah yang berbeda. Ada yang menyebutnya berasal dari Hamedan (Iran), seorang Yahudi dari Yaman dan Hirah.
Kita bisa membagi tiga golongan para penulis dalam melihat realitas oknum ini;
a. Yang Menerima
Berikut ini Mereka yang menerima keberadaan Ibn Saba dan bahwa ia memiliki peran kunci atas pembunuhan Usman, berkobarnya perang Jamal dan Shiffin.
1. Hasan Ibrahim Hasan
Ia berkeyakinan bahwa, krisis yang dialami oleh pemerintahan Islam ketika itu merupakan hasil dari kesenjangan yang terlihat sangat jelas dari hasil kebijakan politik ekonomi Khalifah Usman. Dari kebijakan tersebut lahirlah stratifikasi social yang senjang. Di madinah dan beberapa wilayah Islam lainnya, dilanda keresahan serta tidak puas atas Usman.
Kondisi demikianlah yang kemudian menjadi penunjang umat Islam masa itu menerima seruan Abdullah bin Saba, dan dengan cepat Abdullah bin Saba telah mempengaruhi mereka.[5]
2. Ahmad Syibli
Ia berpendapat bahwa, kelembutan dan rasa malu berlebihan Usman-lah penyebab keruntuhannya. Sedangkan biang kerok dari kehancuran Usman adalah Abdullah bin Saba.
Abdullah bin Saba berhasil menarik umat Islam ke dalam pikiran-pikiran sesatnya. Ia adalah Yahudi Yaman yang masuk Islam, selain itu, pemikiran-pemikiran orang-orang Iran ia suntikkan ke dalam tubuh umat Islam.[6]
Yang menarik adalah, Ahmad Syibli ternyata menukil pendapat di atas dari seorang orientalis bernama Brogmen. Demikian halnya dengan Abbas Mahmud dalam kitabnya Abqariyah Usman.
b. Yang Meragukan
Sejarawan dalam barisan ini di antaranya:
1. Dr. Thaha Husain al-Mishri
Di beberapa tempat ia menulis; Bagi mereka yang menerima keberadaan Abdullah bin Saba, ia bertabrakan dengan realitas sejarah. Sebab masalah pertama dan utama kita adalah, bahwa tidak kita dapatkan dalam referensi penting sejarah dan hadits yang menyebut Abdullah bin Saba. Dalam Thabagat Ibn Saad, Ansab al-Asyraf Baladzuri dan referensi-referinsi sejarah yang muktabar tidak mencatat nama Ibn Saba. Hanya Thabari yang ia terima dari Saif Bin Umar yang menulis hal ini. Sedang sejarawan setelahnya menukil hanya melalui rangkaian Thabari dari Saif bin Umar.[7]
Dalam bagian lain, ia mencatat; dugaan kuat adalah bahwa musuh-musuh Syi’ahlah pada masa bani Umayah dan Abbasiyah yang membesar-besarkan cerita Abdullah bin Saba, hingga fitnah atas Usman seakan berasal dari luar Islam. Sisi lain, Imam Ali dan Syi’ahnya menjadi jelek….. sangat mustahil akal dan akidah kaum muslim pada masa Usman sedemikian mudah dipengaruhi dan dikotori oleh seorang yang bernama Adullah bin Saba.[8]
2. Muhammah Ummarah
Ia sebagaimana Thaha Husain menyangsikan realitas Abdullah bin Saba. Pada bab Syi’ah wa Imamah dalam bukunya, ia menolak hubungan antara Syi’ah dan Abdullah bin Saba. Syi’ah dalam pandangannya, selain mazhab yang mendukung hak Ali as atas Imamah, akidah Syi’ah berasal dari Ja’far bin Muhammad, Imam Bagir, dan Imam Ali Ridha as. Karena sebagian besar hadis-hadis yang diriwayatkan Syi’ah berasal dari para Imam ini.[9]
Di akhir tulisannya ia menulis; bila bahasan kita adalah asal muasal kemunculan Syi’ah, dan anggaplah kita terima keberadaan Abdullah bin Saba, itu bukan berarti bukti bahwa Syi’ah muncul dan meluas pada masa itu. Karenanya Syi’ah tidak satupun riwayat dinukil dari Abdullah bin Saba, ini memperkuat bahwa kemunculan Syi’ah dengan Abdullah bin Saba tidak ada korelansi sama sekali.[10]
2. Muhammad Abdulhayy Sya’ban
Ia mengalisa secara teliti peristiwa bencana masa Usman dan bentrokan yang terjadi antar sahabat ketika itu, tapi tidak menyinggung sama sekali perihal Abdullah bin Saba dalam bukunya.[11]
3. Hasyim Jaith
Sejarawan ini, dalam penelitiaannya mengenai bencana atas pembunuhan Usman, menulis; sangat tidak mungkin menerima pendapat bahwa Abdullah bin Saba-lah yang berlakon dalam peristiwa tersebut.[12]
4. Allamah Thabathabai
Dua orang ini –Saif dan Syu’aib- yang dari mereka Thabari meriwayatkan cerita Ibn Saba dan seluruh peristiwa bencana masa Usman. Keduanya terkenal sebagai pembohong, posisinya tidak diterima dan tertolak. Hadis ciptaan mengenai Ibn Saba berasal dari keduanya.[13]
Analisis Sanad Hadits
Pada pendahuluan telah disebutkan, bahwa sanad yang paling penting mengenai riwayat Abdullah bin Saba adalah riwayat dari atThabari dalam kitabnya Tarikh Umam wa al-Muluk. Berikut ini, analisis mengenai rantai periwayatan tersebut akan kita lakukan.
1. Thabari
Mengenai Thabari, kita tidak perlu melakukan analisis khusus. Ia seorang sejarawan terkenal. Yang perlu dicatat adalah, tidak selayaknya dalam ukuran ilmiyah menerima begitu saja riwayat tunggal kemudian dalil mutlak meski dari rantai sekaliber Thabari. Selain itu, hal demikian bertentangan dengan pendapat Thabari sendiri.
Ia dalam pendahuluan bukunya menulis; “apa yang terdapat dalam kitabku ini, dari berita orang terdahulu, para pembaca boleh jadi menolak atau menerimanya, sebab tidak ada kemutlakan atas kebenarannya. Tapi yang perlu diketahui bahwa, riwayat-riwayat yang ada bukanlah dari kami, orang lain meriwayatkannya kepada kami. Sebagaimana yang lain mewariskan dan meriwayatkannya kepada kami, demikian halnya untuk kalian kami sampaikan.”[14]
Berdasarkan ini, Thabari sendiri tidak menyebut seluruh riwayatnya sebagai shahih, melainkan pintu diskusi dalam hadis-hadis dan riwayatnya terbuka untuk para peneliti.
Syaikh Khatib, terkenal dengan nama Muhibbudin dalam majalah Azhar dalam komentarnya mengenai buku Tarikh Thabari mengatakan; orang-orang yang ingin mengambil mamfaat dari kitab Thabari, adalah mereka yang merujuk riwayat-riwayat Thabari dengan kitab Jarh wa Ta’dil (sebuah disiplin ilmu hadits yang menjadikan perihal periwayat hadis sebagai objeknya).
Ia melanjtkan; adapun mereka yang menganggap riwayat-riwayat seperti kayu baker, dengan hawa nafsunya ia kumpulkan tapi tidak memahami dan mengenal sama sekali atas periwayatnya, tapi dengan itu telah merasa cukup, ia tulis nukilan ‘Dari Thabari, Jilid sekian, halaman sekian…’ kemudian ia meresa karya karya pentingnya telah selesai. Mereka ini, sebenarnya adalah orang-orang yang paling jauh dari menggunakan ribuan riwayat sejarah yang ada.[15]
2. Sirry
Ia adalah orang pertama dari rangkaian riwayat Thabari. Thabari ketika menukil riwayat dari Sirry, ia mengatakan; Sirry menulis kepadaku atau ia berkata; seperti yang dituliskan Sirry kepadaku. Ini katakan tanpa menyebut nama ayah (tidak menulis Sirry bin…) kecuali dalam satu kesempatan ia menulis; Haddatsani as-Sirry bin Yahya…(telah berkata kepadaku Sirry bin Yahya)[16] dari riwayat tunggal ini kemudian, para ahli hadis ketika nama Sirry tanpa ada nama ayahnya disebut ditemukan dalam riwayat thabari lainnya, ia kemudian dinisbatkan kepada Sirry bin Yahya.
Yang menguatkan pernyataan ini adalah, dalam Tarikh Madinah Dimasyq Ibn Asakir menyebutkan ayahnya adalah Yahya. Ibn Asakir menulis demikian; Sirry bin Yahya dari Syu’aib, dari saif bin Umar. Bagaimanapun, orang ini tetap misterius dan tidak dikenal, melainkan diragukan sebagai beberapa orang:
a. Sirry bin Sirry bin Akh Hanad bin Sirry
Orang ini sezaman dengan Thabari tapi Thabari tidak meriwayatkan apa-apa darinya dan tidak ada yang menunjukkan dari siapa Thabari meriwayatkan darinya. Selain itu tidak seorangpun yang menyebutnya sebagai ahli hadis, tidak juga dari siapa hadis ia riwayatkan dan kepada siapa ia riwayatkan. Walhasil, orang ini tidak dikenal.
b. Sirry bin Yahya bin Iyas
Ia tidak sezaman dengan Thabari. Ia wafat pada tahun 167 H, yakni lima puluh tujuh tahun sebelum Thabari dilahirkan, Thabari dilahirkan tahun 224 H. sebab itu tidak bisa kita katakan bahwa dalam riwayat yang disampaikan oleh Thabari adalah Sirry bin Yahya bin Iyas.
c. Sirry bin Ismail Hamedani Kufi
Kalau ia adalah yang terdapat dalam riwayat Thabari, maka orang ini tertolak riwayatnya. Sebagian mengatakan ia lemah, sebagaian menyebut sebagai orang yang tertolak hadi-hadisnya.
Ibn al-Mubarak, Abu Daud dan Nasai menyebutnya tidak tsiqah (kuat dalam periwayatan). Ibn ‘Adi berkata; tidak seorangpun yang mengikuti hadis-hadis yang ia riwayatkan.
d. Sirry bin Ashim bin Sahl
Ia, sekalipun sezaman dengan Thabari, tapi Ibn Farasy menolaknya, sedangkan Ibn ‘Adi dalam periwayatan menyebutnya sebagai orang lemah.
Naqqasy menyebutnya sebagai pemalsu hadis. Az-Zahabi ketika ia memberikan contoh dua hadis palsu, ia menyebut di antaranya Sirry bin Ashim bin Sahl.
3. Syu’aib
Ia adalah Syu’aib bin Ibrahim yang tidak dikenal. Zahabi berkomentar; Syu’aib bin Ibrahim seorang periwayat kitab-kitab Saif –Saif bin Umar-. Ia adalah orang bodoh.[17] Ibn ‘Adi menyebutnya sebagai orang yang tidak dikenal.[18]
4. Saif bin Umar
Ia adalah Saif bin Umar at-Tamimi Asayyidi, demikian dalam Tarikh Thabari dan Lubab al-Ansab menyebutnya.[19] Berikut ini beberapa komentar Ahli Jarh wa Ta’dil mengenai Saif:
a. At-Thabari meskipun menyebutkan Saif dalam rantai riwayat yang ia bawakan, tapi ia membenarkan kelemahan Saif bin Umar. Beberapa kali ia menyebutkan bahwa, Ijma ulama hadis menolak Saif.[20]
b. Imam Ahli Jarh wa Ta’dil bagi mazhab Sunni Yahya bin Mu’in berkata; “sekeping uang lebih baik daripada Saif.” Di tempat lain ia menulis; ia –Saif bin Umar- Lemah.
c. Ibn Hajar dalam Taqrib at-Tahzib berkata: ia lemah dalam periwayatan hadis.[21]
d. Syaikh Muhamad Ali Tabani berkata: Saif bin Umar adalah pembuat hadis, ia dituduh kafir, ia tidak meriwayatkan hadis selain dari orang-orang yang tidak dikenal. Ia menambahkan; seluruh kritikus hadis sepakat bahwa demikianlah yang ia lakukan.[22]
e. Abu Daud penulis as-Sunan menulis; Saif tidak bernilai sama sekali. Ungkapan ini merupakan sesuatu yang sangat parah dalam Jarh wa Ta’dil.
f. Hakim Naisabur, pernulis al-Mustadrak berkata; Saif dituduh sebagai kafir dan seluruh riwayatnya tertolak.
g. Zahabi dalam al-Kasyif berkomentar; Para ulama menolaknya, dan ia di tuduh sebagai zindiq[23]
Abdullah bin Saba ternyata tokoh misterius yang abadi. Ternyata Saif bin Umar adalah orang tidak memiliki kredibitas di mata para ulama. Sebagian melihatnya sebagai orang tidak bisa dipercaya dalam periwayatan karena kelemahan hafalan dan kejujurannya. Sebagian malah sampai menyebut kafir. Lantas kenapa pemikiran-pemikirannya terus hidup di tengah umat Islam?
Annas a’dau ma jahilu. Ya, manusia memang memang selalu menjadi musuh atas apa yang tidak mereka ketahui. Bagaimana dengan Anda? Mengikuti perintah al-Qur’an untuk meneliti setiap berita yang datang kepada kita? Mengikuti agama yang memerintahkan untuk mengedepankan dan mengikuti argumentasi yang jelas? Ataukah kita memang lebih senang mendengar dongeng?!
[1] . Tarih Thabari, 3/378, al-Kamil Ibn Atsir, Peristiwa tahun ketiga puluh hal. 30
[2] . Nas’ah al-Fikr al-Falsafi fi al-Islam, hal. 18
[3] . al-Mazhab al-Islamiyah, hal. 46
[4] . as-Syi’ah wa as-Sunnah, hal. 24
[5] . Tarikh al-Islam as-Siyasi, 1/78
[6] . Mausu’ah at-Tarikh al-Islami, 1/358
[7] . al-Fitnah al-Kubra, hal. 132
[8] . Ibid, hal. 134
[9] . al-Khilafah wa Nasy’at al-Ahzab al-Islamiyah, hal. 153
[10] . Ibid, hal. 155
[11] . Shadr al-Islam wan ad-Duwal al-Umawiyah
[12] . Jadaliyah ad-Din, hal. 75
[13] . al-Mizan, 9/260
[14] . Tarikh Thabari, 1/5
[15] . Majalah al-Azhar, 24/210, tahun 1372
[16] . Tarikh at-Thabari, 3/213
[17] . Mizan al-I’tidal, 2/275
[18] . al-Kamil fi ad-Dhuafa, 4/4
[19] . Lubab al-Ansab, 1/49
[20] . Hasan bin Farhan Maliki, Inqaz Tarikh al-Islami
[21] . al-Kasyif, 1/371
[22] . Tahzir al-Abqary, 1/275
[23] . al-Isti’ab, 3/252
DIarsipkan di bawah: Tokoh

