Al-Ghadir Menurut ASWAJA

mankuntu.jpgAhli bahasa beranggapan bahwa derivasi ‘ied adalah dari kata ‘aud. Dan kata ‘aud bermakna kembali. Oleh karena itu setiap ied adalah berarti kembali atau mudik.

Kembali secara berulang adalah sebuah gerakan setelah melintasi kausa nuzuli dan mulai beranjak naik menuju kausa su’udi. Sebagaimana kita memperingati tahun baru (nuruzz, tahun baru Persia, AK) sebagai saat-saat kembalinya kehidupan kepada tabiat (alam).

Sebuah kehidupan yang terpasung dalam tawanan suasana dingin, dan pada puncak kedinginan musim salju (winter, semiztân) dan bahkan pada batas ketiadaan – hingga seolah-olah tiada – dan kemudian lahir kembali dengan tibanya musim semi dan ibarat melodi yang mengalun naik.

Kembalinya kehidupan kepada suasana musim semi ini harus diperingati. Dan hal ini merupakan puncak semangat sebuah maktab yang dipersembahkan kepada dunia materi.

Kini apabila alegori (perumpamaan) ini kita aplikasikan pada teks-teks agama dimana seluruh semesta merupakan mukaddimah bagi wujud manusia dan tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah, maka hari raya harus dimeriahkan sebagai hari kembalinya kehidupan maknawi manusia. Baca lebih lanjut

Iklan