Abdullah bin Saba; Dongeng Para Pendusta

Bak legenda pendekar syair berdarah, bait-bait Abdullah bin Saba mengiang memecahkan telinga masa, terus bergerak ke lembaran-lembaran sejarah umat Islam. Pendekar yang satu ini telah menjadi pedang yang haus darah bagi mazhab Syi’ah selama ratusan generasi setelah kemunculannya.

Siapakah Abdullah bin Saba? Adakah realitas dan ekstensi orang ini? lantas apa hubungannya dengan Syi’ah.? Benar, meneliti lebih jauh Abdullah bin Saba adalah sesuatu yang urgen untuk dapat lebih jernih melihat Syi’ah. Tidak cukup adil kelihatannya bila hanya merujuk kepada buku-buku yang menjadikan tokoh kita ini sebagai senjata menyerang Syi’ah, sementara kita tidak membuka buku-buku pembelaan ulama muktabar Syi’ah.

Berikut ini, kami mengajak Anda melihat realitas, kemudian kepada hati, kita tanyakan, apakah kita berani mengambil argumentasi yang benar, atau kita, adalah orang-orang yang menutup diri dari kebenaran! Baca lebih lanjut

Iklan

Selangit Keutamaan Baginda Ali

2323.jpg

Setiap orang bertakwa dan beriman mengenal Ali sebagai waliyullah. Di setiap tempat ‘Ali dikenal sebagai Penghulu Waliyullah. Kekuasaan ‘Ali yang pengasih dikenal dan dialami hingga hari ini oleh mereka yang mencintainya dan akan tetap berlanjut dirasakan hingga akhir zaman.

‘Ali, waliyullah, melakukan segala sesuatu yang membuat Allah Ridha dan Allah Swt menganugerahkan apa yang membuat ‘Ali Ridha.

‘Ali, jawara sengit dan tajam perang Khandaq, pemberani dan tak kenal rasa takut, penakluk Khaibar, adalah orang yang memiliki hati yang lembut terhadap orang-orang sakit dan pembela para janda dan anak yatim.

‘Ali, pangeran sedekah, bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan, melebihi Hatim at-Ta’im, dengan memberikan sebuah karavan bermuatan kepada fakir-miskin ketika ia dimintai sepotong roti.

‘Ali, yang memakan roti kering dan garam, akan menggelar perjamuan untuk para fakir-miskin dan para pengemis.

‘Ali, samudra ilmu, tidak akan berbicara kecuali diminta.

Dalam upaya untuk menganugerahkan kemulian kepada pekerja yang jujur, ‘Ali menggulung sendiri lengan bajunya dan bekerja di ladang-ladang orang-orang Yahudi dan kaum Muslimin sebagai seorang buruh. Baca lebih lanjut