Beberapa Soalan kepada Ustadku [58]

Benarkah apa yang dikatakan mereka (syi’ah) bahwa Aisyah ra mempunyai Mushaf khusus dan diberi nama Mushaf Aisyah.[1]

Dan sebagian sahabat juga mempunyai mushaf: Mushaf Salim Maula Hudzaifah, dan Mushaf Ibnu Mas’ud, dan Mushaf Ubay Bin Ka’ab, Mushaf Miqdad, Mushaf Mu’az bin Jabal, dan Mushaf Abu Musa Asy’ari.[2]

Apa bedanya mushaf-mushaf tersebut dengan mushaf Fathimah dan mushaf Imam Ali ra? Lalu kenapa kita memprotes syi’ah dari aspek ini?

 


[1] . Tafsir Nasai 2: 370, Tafsir Baghawi 2: 331.

[2] . Usdul Ghabah 4: 216.

Iklan

Beberapa Soalan kepada Ustadku [57]

Apakah betul yang dikatakan oleh orang Syiah bahwa menurut Aisyah Ra; orang besar itu boleh menyusu, yakni untuk supaya seseorang bisa menjadi mahram kita, cukup orang tersebut menyusu pada seorang perempuan sebanyak lima kali, ketika itu, perempuan tersebut menjadi ibunya dan saudara perempuan itu menjadi bibinya….dan Aisyah Ra apabila ingin melihat seseorang (laki-laki) dan mengizinkannya untuk masuk ke rumah, terlebih dahulu dia menyuruh orang tersebut datang ke keponakan Aisyah Ra -Asma- untuk menyusu sehingga orang tersebut menjadi mahramnya (Aisyah ra)! Namun Ummu Salamah dan istri Nabi Saw yang lain sangat menentang pendapat ini.[1]


[1]. Sunan Abu Daud 2: 222, shahih Muslim kitab Ar-Radh’a bab 7: 4, 251 Darami 2: bab 59 hadits 2257: 210, Sunan Ibnu Majah 1 bab 36, Ridha’ul Kabir 1943: 625, penyusun Abdurrazzaq 7: 460 dan 13886.

Beberapa Soalan kepada Ustadku [56]

UMMUL MUKMININ AISYAH RA

Orang-orang Syi’ah berkata: Ada sebuah persoalan yang isinya meremehkan dan menghina Rasulullah Saw dan Aisyah Ra menukil persoalan tersebut sebagai sebuah riwayat. Dimana tentunya bagi setiap manusia yang mempunyai rasa cinta kepada Rasulullah Saw, maka hal ini adalah sesuatu yang tidak bisa diterima dan membuat telinga gatal[1], dan sebagian dari hal itu adalah sebuah kebohongan dan tidak sesuai dengan syari’at dan pribadi Rasulullah saw.

  1. Aisyah Ra berkata: “Ketika aku menikah, aku dalam keadaan masih gadis perawan”.
  2. Aisyah Ra berkata: “Adalah wahyu turun kepada Rasulullah Saw dan ketika itu aku dan beliau berada dalam satu selimut”. [2]
  3. Sesungguhnya Aisyah Ra mengabarkan kepada orang-orang bahwa beliau saw telah menciumnya dalam kondisi Nabi Saw sedang berpuasa.[3]
  4. Aisyah Ra: “Suatu hari Rasulullah masuk kepadaku dalam keadaan dua orang kanis (pembantu) sedang sibuk melantunkan sebuah lagu, Rasulullah Saw tanpa memperhatikan mereka, langsung menuju tempat tidurnya kemudian tidur, tiba-tiba Abu Bakar Ra masuk dan menakut-nakutiku dan dia berkata: Musik setan di dalam rumah Nabi!! Rasulullah saw berkata kepadanya (Abu Bakar ra): jangan ganggu mereka, biarkan saja mereka teruskan nyanyiannya. Ketika Abu Bakar Ra sedikit lalai, maka saya pun segera menyuruh pembantu-pembantu itu untuk pergi meninggalkan ruangan”. [4]
  5. Menyaksikan tarian: dari Aisyah Ra berkata:”Pada suatu hari raya ada orang budak hitam sedang bermain menari dengan pedang dan perisai, maka aku pun bertanya kepada Beliau saw dan Beliau berkata: Kamu menyukainya, dan menyaksikannya? Lalu aku berkata: iyah, lalu beliau memberdirikanku di belakangnya, pipiku di atas pipinya dan dia berkata:Silahkan kalian wahai Bani, berilah dia sampai betul-betul jenuh dan bosan. Dia berkata:cukup bagimu. Saya berkata: iyah. kemudian dai berkata:pergilah![5]
  6. Dari Aisyah Ra: “Pada hari raya sekelompok orang dari Habasyah datang ke Masjid dan dalam keadaan mereka sedang menari-nari, Nabi saw memanggil saya -Aisyah ra- dan meletakkan kepalaku diatas bahunya dan menonton mereka (orang yang sedang menari itu).[6]

Asqalani berkata peristiwa ini -tarian habasyah- terjadi pada tahun ke 7 H yaitu ketika Aisyah ra berumur 15 tahun.[7]

  1. Dari Aisyah ra berkata: “aku berbaring dan tidur di depan Rasulullah saw . dan kedua kakiku aku letakkan di tempat sujudnya. Ketika beliau saw sujud, dia mengusap kakiku!! Aku pun dengan segera menarik kaki. Dan ketika Nabi saw bangkit untuk rakaat berikutnya, aku pun kembali menjulurkan kaki”.[8]

 


[1] . Sair I’lamu An-Nablau 2: 193, 191 dan 172.

[2] . Ibid.

[3] . Bukhari 2: 2 Kitab Al-‘Idain bab Al-Hirab Wa Ad-Darq Yaum Al-‘Id dan jilid 4: 47 kitab Al-Jihad, bab Ad-Darq. Shahih Muslim 2: 609 kitab As-Shalat.

[4] . Bukhari 2: 2 Kitab Al-‘Idain bab Al-Hirab wa Ad-Darq Yaum Al-‘Id dan jilid 4: 47 kitab Jihad , bab Ad-Darq Shahih Muslim 2: 609 kitab  Shalat Al-‘Idain; 4 ba Ar-Rukhshah fii Al-La’ab jilid 19.

[5] . Bukhari 1: 169 kitab Al-‘Idain bab 2.

[6] . Muslim 2: 609 kitab Shalat Al-‘Idain.

[7] . Syarah Nawawi 6: 186.

[8] . Bukhari 1: 107 Kitab shalat, bab as-shalat ‘alal Faraidh dan hal 136 bab At-tathawwu’ fii khalfil Mar’ah dan hal 138 bab Hal yaghmuzu Ar-rajulu imraatau ‘inda As-sujud dan jilid 81 kitab Shalat bab ma yajuzu minal ‘amal fii as-shalat. Shahih Muslim 2: 367 kitab shalat bab 51 al-‘itiradz baina yadai al-mushalli jilid 272.

Beberapa Soalan kepada Ustadku [55]

 UMMUL MUKMININ AISYAH RA 

Benarkah apa yang dikatakan mereka (Syi’ah) bahwa Ibnu Zubair telah mengibuli dan menipu Aisyah Ra sehingga dia tergoda untuk melaksanakan perang Jamal, pertumpahan darah dan pembantaian di antara kaum Muslim. Sebagaimana peristiwa getir ini diceritakan oleh Abdullah bin Umar kepada Aisyah Ra.

Dzahabi berkata:“Aisyah Ra berkata ketika Ibnu Umar lewat di hadapannya, Wahai Abu Abdurrahman apa yang membuatmu enggan untuk melarangku dari perjalanan ini? Dia berkata: Aku melihat seorang laki-laki yang telah mempengaruhi dan merayumu yaitu Ibnu Zubair”. [1]

Dengan realitas sejarah seperti ini, kenapa kita selalu memberikan alasan bagaimana perang Jamal itu bisa terjadi, dan kita mencoba memadamkan api itu, dan kenapa kita mencoba pula membersihkan diri orang-orang yang telah memprovokasi terjadinya perang Jamal itu serta kenapa kita sandarkan hal ini kepada seorang manusia fiktif yang bernama Abdullah bin Saba? Kenapa kita mencoba memisahkan Abdullah bin Zubair dan yang lain, dari kelompok yang memprovokasi perang ini?

 


[1] . Tabaqat Ibnu Sa’ad,  2: 193.

Beberapa Soalan kepada Ustadku [54]

 AISYAH RA , UMMUL MUKMININ

Benarkah apa yang dikatakan mereka (Syi’ah) bahwa Aisyah Ra, Ummulmukminin, telah melarang dan menghalangi jenazah Imam Hasan Ra, pemimpin pemuda ahli Surga, untuk dibawa dan dimakamkan disamping makam Rasulullah Saw?

Sementara Aisyah dengan sendirinya menginginkan supaya  jenazah Sa’ad bin Abi Waqas dibawah ke masjid Nabi saw untuk dishalati.[1] Apakah Aisyah Ra bukan ummulmukminin (ibu kaum mukminin) ataukah Imam Hasan bukan orang mukmin? Ataukah dia (Aisyah ra) punya permusuhan dan rasa dengki dengan putra Rasulullah saw (Imam Hasan As)?

 


[1] . Ibid. 2: 605, Tabaqat Ibnu Sa’ad 3: 148.

Beberapa Soalan kepada Ustadku [53]

AISYAH  DAN  UMMAHATUL MUKMININ

Benarkah apa yang dikatakan mereka (Syi’ah) bahwa Aisyah Ra -sebelum menikah dengan Nabi Saw- sudah pernah menikah. Dan nama suaminya adlaah Jabir, kemudian ditalak dan Abu Bakar mengambil Aisyah Ra dan menikahkannya dengan Rasulullah Saw?Mereka mengatakan bahwa penyebab penegasan  serius Aisyah Ra bahwa dia berkata saya dulu adalah seorang gadis perawan, mungkin dapat menangkis adanya kemungkinan semacam ini.Ibnu Sa’ad:“Rasulullah Saw melamar Aisyah Ra kepada Abu Bakar Ra, lalu dia berkata: Ya Rasulullah Saw sesungguhnya aku memberinya makan untuk anaknya Jabir, lalu  dia meninggalkanku sehingga aku memisahkannya (Aisyah Ra)  dari mereka dan dia (Jabir) pun mentalaknya, dan akhirnya dia (Abu Bakar ra) menikahkan (Aisyah ra) dengan Rasulullah saw.” [1]Tentunya -sesuai pengetahuan saya- tidak seorang pun Syi’ah mempunyai akidah seperti ini, dan tidak akan ditemukan di kitab-kitab mereka hal seperti ini. Tapi sangat disayangkan, di dalam kitab ini -kitab paling kuno- yang merupakan referensi-referensi kita Ahlusunnah, ditemukan kisah seperti ini.Dzahabi meriwayatkan dari Aisyah Ra:“Sesungguhnya aku memberi sembilan hal yang tidak aku berikan kepada istrinya setelah Maryam As: sesungguhnya Jibril As -menyerupai satu bentuk-  turun dari langit……dan sesungguhnya dia (Rasulullah Saw menikahiku dalam keadaan perawan dan tidak pernah sebelumnya dia (Rasulullah Saw) menikah dengan seorang gadis selain saya….. dan jika wahyu turun kepadanya, saya sedang bersama dia (Rasulullah Saw) di dalam selimutnya….”.[2] 


[1] . At-Thabaqatul Kubra 8: 59.

[2] . Sair I’lamu An-Nablau 2: 141 dan 140.

Beberapa Soalan kepada Ustadku [52]

AISYAH  DAN  UMMAHATUL MUKMININ

Benarkah apa yang dikatakan Bukhari dan Dzahabi serta yang lain bahwa : istri-istri Nabi Saw terbagi menjadi dua kelompok dan golongan? Satu golongan dipimpin Aisyah Ra dan Hafsah Ra dan kelompok satu lagi yang di dalamnya Ummu Salamah dan seluruh istri Nabi saw yang lain [1] dan pemerintah memihak kelompok Aisyah ra; contoh-contohnya:

  1. Khalifah kedua memberi secara rutin ke setiap istri Nabi saw uang sebesar sepuluh ribu Dirham (atau Dinar), namun Aisyah ra diberi lebih dua ribu Dirham dari yang lain.

  2. Muawiyah mengirim uang sebesar seratus ribu Dirham (atau Dinar) untuk Aisyah ra.

  3. Juga (muawiyah) mengirim kalung seharga seratus ribu Dirham untuk Aisyah ra.

  4. Abdullah bin Zubair memberi uang sebesar seratus ribu Dirham untuk Aisyah ra.[2]

 


[1] . Sair I’lamu An-Nablau 2: 143 dan 187, Shahih Bukhari 2: kitab Al-hibah : 89, Al-Mu’jam Al-Kabir 23: 50 hadits 132, Mukaddimah Fathul Bari : 282, Fathul Bari 9: 309, Tuhfatul Ahwazi 10: 255.

[2] . Sair I’lamu An-Nablau 2: 143 dan 187.